Saturday, October 8, 2016

[Foto] Wisata Alam Puger

Rangkaian aktivitas yang pernah dilakukan di rantau harus dikenang dengan rapi, dalam tulisan atau gambar. Tadabbur yang dilakukan ke Pantai Puger ini sekitar beberapa bulan yang lalu. Kenangannya bukan main, pertama kalinya seumur hidup bertemu banteng secara langsung. Bukan hanya menatap tapi diserang hingga beberapa teman terluka.

Ceritanya cukup panjang sih, tapi yang terpenting hasil dokumentasinya bisa dinikmati dibawah ini:
Tower Pantai Puger
Foto di Jembatan Puger
Foto Bersama di Jembatan Gaya Siluet
Foto Sendiri Gaya Siluet
Kejar-kejaran Foto Timer
Orang Mancing di Jembatan Puger
Nelayan Puger Pulang Melaut
Gerbang Masuk Ke Teluk Puger
Nelayan Memasuki Teluk Puger
Foto Diatas Batu Gerbang Teluk
Kalau mau ke area hutan pinggir pantai sana jangan lupa bawa peralatan lengkap, untuk dijadikan perlindungan diri. Kejadian adu jotos bareng banteng biarkan hanya kami dan teman-teman yang merasakan.
Read More

Friday, October 7, 2016

Kacamata Kebaikan

Kacamata Kebaikan

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

"Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)." (Surat Al-An'am: 160)

Perlu kita pahami bahwa kebaikan yang kita lakukan belum tentu 100% diterima oleh Allah, semntara maksiat yang dilakukan sudah pasti 100% menjadi dosa yang akan kita pertanggungjawabkan kelak di akhirat.

Semoga kita istiqomah dalam kebaikan, sebab kita hanya mempersembahkan yang terbaik untuk menggapai ridho Allah.
Read More

Thursday, October 6, 2016

Percikan Cahaya

Percikan Cahaya
Pernahkah kalian merasa buntu dan hilang arah seakan berada ditengah hutan yang gelap dan yang tersisa hanya pekat? Biasanya ini terjadi saat diri kita sampai pada titik jenuh, semua terasa seakan tiada berharga karena yang tersisa hanya kecewa.

Dibalik semua itu, kita ternyata semakin dekat untuk bisa meluluhkan hati yang mulai membatu. Kita hanya butuh satu percikan cahaya yang memberikan penerangan betapa banyaknya nikmat Allah, daripada kita menyesali cobaan yang hanya sedikit ini.

Cobalah benarkan dengan hati kita yang terdalam maka akan kau temukan hati yang bersih dan terbuka untuk menerima kebenaran. Sebab hati membenarkannya, maka beriman pada akhirnya. 

Hingga iman itu menancap dalam ke dalam hati, kondisi akan terus meningkat hingga mencapai titik tenang yang hanya bisa kau temukan dengan ketaatan pada Allah.
Read More

Wednesday, October 5, 2016

Menawar Surga-Nya.

Sebelum Aku Berani Menawar Surga-Nya.
Oleh: Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar

Adakalanya hati bagaikan tersayat belati hingga semuanya terasa tak berarti | Berlalu seakan tiada bekas yang telah membeku dalam amalan yang terbatas

Aku hanya sebutir pasir di pinggir samudra | Imanku belum seujung kuku dibanding mujahid kstaria, apalagi layaknya seperti ummat akhir zaman yang di rindukan Rasulullah

Aku hanya sebutir pasir di pinggir samudra. Ilmuku belum seujung kuku dibanding para mujtahid dan ulama | Yang meninggalkan jariyah bagi semesta sepanjang masa, maka dengan apa saya akan berani menawar surga?

Aku hanya sebutir pasir di pinggir samudra. Amalku belum seujung kuku dibanding para shiddiqin tanpa nama | Yang kontrbusinya signifikan, tetapi identitas diri disembunyikannya,maka dengan apa saya akan berani menawar surga?

Aku hanya sebutir pasir yang terus mencari makna, karena sebutir pasir tidak ada maknanya, kecuali bersama pasir-pasir lainnya, dan karena menjadi da'i adalah yang pertama dan utama | sebelum menjadi doktor, profesor atau apapun atribut dunia yang lainnya,

Sebelum aku berani menawar surga-Nya.
Read More

Tuesday, October 4, 2016

Sharing Bareng Mahasiswa Baru

Aku Menjadi Narasumber Saat Sharing Bareng Mahasiswa Baru
Tahun ketiga telah berlalu, tahap demi tahap kehidupan kampus pun telah dilalui. Ada satu hal yang harus kita tahu, yakni berdedikasi maksimal dalam setiap peran yang kita jalani. Menjadi mahasiswa, maksimalkan diri untuk memainkan peran penting sebagai pengemban perubahan. Menggali ilmu sedalam mungkin, hingga menghasilkan karya-karya yang darinya prestasi akan didapatkan.

Peran kita memang banyak selain sebagai agen perubahan, kita juga menjadi agen pengontrol, agen penerus, dan sebagai agen moral. Empat hal yang disematkan sebagai peran fungsi mahasiswa. Peran kita besar diantara empat hal itu, hingga banyak rakyat kecil yang menyerahkan tanggungjawabnya pada kita. Berharap dari pundak kita, Indonesia akan mengalami perubahan menjadi lebih baik.

Bongkar Tips Sukses Mahasiswa Berprestasi
Sebagai mahasiswa tentu kita harus tahu, arah perubahan yang akan membuat Indonesia lebih baik. Arah perubahan itu hanyalah menuju penerapan syariat Islam, untuk tunduk dan patuh kepada hukum-hukum Allah.

Islam begitu memuliakan kita, hingga dari bangun tidur sampai tidur lagi semua aktivitas yang kita lakukan, Islam telah memberikan aturan yang jelas. Mulai dari bangun keluarga hingga bangun negera pun Islam mengaturnya. Dalam pendidikan juga Islam telah memberikan aturannya, mulai dari cara hingga mekanisme pembelajarannya. Namun, hanya sedikit yang tahu tentang hal ini, sebab sekarang kita telah dikepung oleh sistem pendidikan ala Barat.

Kita bisa menengok sejarah saat sistem pendidikan Islam diterapkan, banyak para ilmuwan muslim yang telah menorehkan prestasinya. Hingga dunia barat pun menjadikan Islam sebagai tujuan mereka menuntut ilmu. Para ilmuwan muslim menjalani pendidikan mereka terlebih dahulu memantabkan aqidahnya, barulah mengambil cabang ilmu umum yang lain. Sehingga mereka benar-benar membuat karya dan prestasinya tidak menyalahi aturan Islam.

Lalu bagaimana dengan zaman sekarang, sudahkah aqidah kita mantab? Sudahkah prestasi kita torehkan?


Mulai Membuat Karya

Kita tak perlu menyesal dengan semua yang telah berlalu, masih belum terlambat bagi kita untuk memulainya. Untuk mempelajari Islam dan memantabkan aqidah, begitu pun dengan prestasi yang akan kita cetak. Selain itu ada beberapa faktor yang harus kita bangun terlebih dahulu saat menjadi mahasiswa, yakni menciptakan balance (keseimbangan) antara 4 hal: Mengkaji Islam, Kuliah, Keluarga, dan juga Prestasi.

Empat hal ini bisa kita tentukan prioritas amalnya, yakni amalan yang akan berdampak pada lainnya juga. Maka dari itu kita juga harus tahu hukum perbuatan terhadap 4 hal tersebut.
  1. Mengkaji Islam hukumnya wajib, menuntut ilmu (kuliah) juga wajib, menyambung silaturahmi terhadap keluarga juga wajib, sedangkan prestasi tak ada dosa jika kita tak mendapatkannya.
  2. Mengkaji Islam akan menjadi prioritas kita, karena ini akan memiliki dampak terhadap 3 hal lainnya. Saat keislaman kita baik, maka kita akan berusaha untuk membuat baik 3 hal yang lainnya.
  3. Mengkaji Islam tentu kita juga telah memilih untuk meng-azzamkan diri untuk mendalami Islam. Maka dari itu HTI Link Kampus Jember mengajak anda untuk mengkaji Islam.
  4. Mengajarkan dan memahami bahwa Islam bukan hanya dalam ranah Ibadah Mahdhoh semata. Namun kita akan sharing bahwa Islam mengatur segala aspek kehidupan.

Insyaallah, kita akan bersama dalam Islam untuk menggapai ridho-Nya, hingga nanti kehidupan Islam yang kita perjuangkan ini membuahkan hasil. Kita akan memberikan solusi konkrit pada ummat ini bahwa Indonesia dan dunia akan sejahtera hanya dengan penerapan syariat Islam dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah 'ala Minhaj an-Nubuwwah.
Read More

Monday, October 3, 2016

Bercita-cita Menulis Buku

Bercita-cita Menulis Buku
Masa ini tentang pertama kali aku menuliskan tiap isi pikiran dan hatiku dalam sebuah kertas dan catatan. Saat satu-persatu lembaran itu mulai habis dengan aliran tinta untuk mencatat setiap moment yang bagiku terasa penting.

Akhirnya benarlah beberapa tahun yang lalu saat duduk di bangku MTs. aku berhasil menulis 3 buku seperti pada gambar itu. Tulisan yang kadang membuatku tertawa dengan sebuah sebab, tertegun dengan pemilihan diksi yang baru kusadari ternyata indah.

Tulisan yang mengalir bak muara menuju lautan, mengisi ruang waktu dan memutar ingatan pada masa itu. Masa dimana saat aku tumbuh beranjak menuju dewasa yang belum tahu hakikatnya.

Sambil menyelami arti hidup dalam suka-duka yang membuatku semakin mengerti tentang waktu. Tentang masa yang takkan terulang dalam kenyataan, hingga aku menyadari bahwa hanya tulisan yang akan memberikanku ingatan kuat.

Cerita itu berbeda saat MTs. begitu pula saat SMA, masa putih abu-abu membuatku semakin mencintai tulisan. Mengumpulkan tulisan untuk memberikan kebaikan pada orang lain. Hingga tercipta satu buku yang hanya diriku menikmati alurnya.

Pernah terlintas untuk menerbitkannya pula, namun apa daya aku hanya seorang amatir. Terlalu besar resiko untuk menerbitkan buku milikku.
Read More

Sunday, October 2, 2016

Jalani Dengan Pahitnya Proses

Perjuangan Dilalui Dengan Pahitnya Proses
Rasa kecewa, rasa lelah, dan rasa sakit pasti pernah ada dalam perjuangan. Namun bukankah itu yang akan menjadi penyebab nikmatnya perjuangan ini. Perjuangan yang tak selalu diukir dengan manisnya hasil, tapi dilalui dengan pahitnya proses yang penuh onak dan duri.

Begitu pula halnya dengan dakwah ini, ia akan menuntut waktu, harta, tenaga bahkan nyawa sekali pun bisa menjadi taruhan dalam perjuangan demi tegaknya Islam dalam bingkai Khilafah. Memang butuh waktu memahamkan seluruh ummat Islam tentang janji tegaknya Khilafah, tapi bukankah sudah harus disuarakan dan diperjuangkan mulai sekarang.

Sebab, sepertinya para pejuang akan sadar pada sebuah kondisi, dimana akan datang generasi baru yang lebih ikhlas yang akan meneruskan perjuangan ini hingga Islam benar-benar tegak. Maka langkah kita hari ini akan menjadi saksi sejarah perjuangan, semoga kelak menjadi syafaat dihadapan Allah atas apa yang telah kita lakukan.

Semoga di sisa kehidupan kita, kesadaran dan keistiqomahan kita selalu terjaga sambil memohon pada Allah untuk meneguhkan hati kita dalam iman dan Islam. Berharap kelak akan berkumpul bersama penghulu para syuhada. Aamiin..

Read More